RPK 9 Juni 14 : Sign Out

Ketika untuk pertama kali mendaftar email account di google.com, saya menemukan tiga kata ini: Sign up, Sign In dan Sign Out. Perlahan-lahan saya memahami maksud ketiga kata ini. Sign up berarti kita membuat sebuah account atau ID sebuah email atau yang lainnya di internet; Sign In merupakan tanda kita memasuki account email atau ID lainnya; Sign Out sebagai tanda kita keluar dari account email atau ID lainnya. Pengalaman yang sama saya pakai untuk membuat account email teman saya di Yahoo. Com. Setelah selesai membuatnya saya mengingatkannya bahwa kalau membuat account baru berarti kita sign up. Kalau masuk dalam account kita maka sign in dan kalau keluar sign out. Dia juga akhirnya menjadi mahir.

Pengalaman bergaul dengan istilah-istilah ini perlahan-lahan masuk juga di dalam hidup setiap hari. Pada suatu kesempatan saya berada di sebuah restoran bersama sahabat-sahabat. Saya memandang orang-orang yang datang ke restoran itu, banyak di antara mereka kelihatan mengalami kesepian, jarak mereka sangat jauh dengan sesama yang berada bersama di sekeliling meja. Saya memperhatikan satu meja yang dikelilingi oleh tiga orang yakni seorang ayah, ibu dan anaknya yang masih kecil. Rasanya begitu sunyi meja itu di tengah keramaian karena ayah itu setiap saat ada telpon masuk dari klient dan berbicara dengan suara yang keras tanpa merasa bahwa ada orang lain di sekitarnya. Tangan sebelanya dipakai untuk mengangkat telpon, tapi masih ada HP lain buat sms atau BB-an setelah menelpon. Ibu juga tidak kalah dengan suaminya dalam hal komunikasi dengan gadget, menelpon sambil tertawa. Anaknya juga sibuk memainkan game di ipad mininya. Sementara itu makanan yang ada di atas meja di kerumuni oleh lalat dan menonton keluarga yang masih sibuk dengan gadgetnya sendiri-sendiri itu.

Saya memiliki suatu pengalaman yang mendidik. Ketika makan bersama di rumah sebuah keluarga, ada telephone yang masuk ke HP salah seorang anak. Ia menerima telephone itu, hanya mengatakan, “Maaf kami lagi makan bersama romo” tetapi kemudian ditegur oleh orang tuanya. Dua kalimat yang sempat saya dengar dari ayahnya: pertama, kalau menerima telpon harus berani mengatakan maaf bapa, mama, romo, aku terima telpon sebentar. Kedua, harus matikan hand phone pada saat makan, setelah makan boleh hidupkan HP. Ini sungguh sebuah pengalaman yang mendidik bagi anak itu tetapi bagi saya juga yang bisa lupa sehingga sambil makan bisa chating BBM.

Pengalaman-pengalaman ini mau mengatakan apa kepada para pria katolik? Para pria katolik harus berani untuk sign out sehingga waktu emas itu bisa digunakan untuk menjalin tali persaudaraan, tali kemesraan dengan istri dan anak-anak di dalam keluarga atau dengan mitra kerja di kantor atau di lapangan. Mungkin saja ada orang yang menghubungimu pada saat makan bersama tetapi perlu memiliki skala prioritas. Ada waktu untuk menelpon, ada waktu untuk berinternet tetapi ada waktu emas buat keluarga. Pria katolik tidak hanya berani sign in tetapi harus berani sign out supaya relasi di dalam keluarga bisa lebih akrab dan bersahabat.

Pada hari Kamis, 5 Juni 2014 malam, Pak Jokowi, Capres nomor dua berada di Pasar Baru dan masuk dalam acara “suara anda” di Metro TV. Pemandu acara bertanya kepadanya tentang keluarga. Ia mengatakan bahwa sesibuk apapun, keluarga selalu menjadi prioritasnya. Memang ada garis pemisah antara tugas sebagai pemimpin tetapi sebagai suami dan bapa keluarga ia selalu memiliki waktu emas. Ia tidak pernah lalai menerima sapaan dari istri dan anak-anaknya. Ia selalu diingatkan oleh istrinya bahwa sesibuk apa pun ia tidak boleh lupa makan. Jadi Pak Jokowi berani untuk sign out ketika bersama-sama dengan keluarga.

Sign out dapat membantu para pria katolik untuk menghayati LOVE. Kita semua mengerti kata LOVE dalam bahasa Inggris berarti cinta. Love itu merupakan sebuah singkatan yang sangat bermakna dan patut dihayati oleh para pria katolik: LOVE (Listening-Ok-Vip-Emphaty). Orang dikatakan sungguh-sungguh atau mampu dalam mengasihi atau LOVE kalau:

Pertama, Listen. Ia memiliki kemampuan untuk mendengar dengan baik. Kadang orang beranggapan bahwa kaum pria kurang mendengar, maunya dia berbicara dan orang lain mendengar. Sekarang cobalah anda mendengar dan menjadi pendengar yang aktif.

Kedua, Ok. Orang yang mampu mengasihi akan menciptakan kondisi di mana siapa saja ketika berada bersama-sama merasa nyaman. Orang merasa percaya diri dan bisa berkreasi. Pokoknya ok berarti ia nyaman bersama orang lain.

Ketiga, Vip. Orang yang mengasihi itu merasa bahwa orang yang ada di sekitarnya itu sangat penting. Jadi semua orang itu penting baginya, bukan hanya yang membawa keuntungan itu penting dan yang lain diabaikan. Semua orang penting bagi diri kita.

Keempat, Emphaty. Orang yang bisa mengasihi itu juga suka berbagi atau berbelarasa dengan sesamanya. Hidup menjadi indah karena kemampuan kita mengasihi dengan berbagi atau berempati.

Pada hari ini kita semua dikuatkan untuk berani Sign Out dan membangun kemampuan LOVE bagi sesama di sekitar kita. Anda sebagai pria katolik, pasti bisa!

PJSDB