Peran Roh Kudus

Minggu, 15 Mei 2016 (Hari Raya Pentakosta)

Kis. 2:1-11;

Mzm. 104:1ab,24ac,29bc-30,31,34;

1Kor. 12:3b-7,12-13 atau Rm. 8:8-17;

Bacaan Injil : Yoh. 14:15-16,23b-26.

 

Ayat : Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. (Yoh. 14:16-17a)

 

Hari ini Gereja merayakan hari raya yang istimewa yaitu memeringati hari ulang tahunnya. Pentakosta memeringati tercurahnya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem, yang terjadi 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus. Roh Kudus tercurah saat itu sesuai dengan janji Yesus, yang akan mengirimkan seorang Penolong untuk menyertai kita selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran (lih. Yoh. 14:16-17a).

 

 

Roh Kudus ini yang akan memimpin, menghibur, mengajar kita agar tidak menyimpang dari seluruh perintah yang telah dikemukakan oleh Tuhan Yesus sendiri (lih. Yoh. 14:26). Jadi Roh Kudus sangat berperan penting dalam seluruh kehidupan kita, karena Ia selalu berada di dalam hati kita untuk membimbing kita senantiasa.

 

 

Bila Roh Kudus bekerja dalam diri kita, maka kita pun berubah menjadi pribadi baru, yang penuh semangat untuk melakukan evangelisasi, yaitu mewartakan Yesus Kristus ke seluruh dunia dengan sepenuh hati, seperti yang tertulis dalam Kis. 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Hal ini sudah dibuktikan oleh Petrus sendiri, yang ketika berkotbah, maka tiga ribu jiwa mengalami pertobatan. (lih. Kis. 2:41)

 

 

Perubahan juga terjadi dalam diri kita, sehingga kita memiliki kehidupan doa yang berbeda, ada kerinduan untuk membaca Kitab Suci dan menerima sakramen-sakramen, serta keinginan untuk berkomunitas dan melakukan pelayanan. Bila Roh Allah bekerja dalam diri kita, maka kita mengetahui bagaimana seharusnya kita hidup dan melaksanakan kehendak Bapa di surga.

 

 

Semoga pada hari Pentakosta ini, kita pun mengalami perubahan dan menjadi manusia baru yang siap untuk menjadi Saksi Kristus yang luar biasa. Selamat Pentakosta dan dirgahayu Gereja. (DAG)

 

 

 

Quote of the day : The Holy Spirit is spirit of God, not a human spirit (Author Unknown)

Mengalami Aliran-Aliran Air Hidup

 Sabtu, 14 Mei 2016 ( Pesta St. Matias, Misa Sore Menjelang Hari Raya Pentakosta )

Kej 11:1-9
Mzm 104: 1-2a.24.25c.27-28.29bc-30
Rm 8:22-27
Yoh 7:37-39

 

Ayat :Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan. (Yoh. 7:39)

 

Pada suatu hari saya mengikuti leadership training bersama sekelompok Orang Muda Katolik. Kami mendapat kesempatan untuk berjalan di atas sebuah jembatan penyeberangan, sambil memandang air sungai yang masih jernih mengalir tanpa henti. Kami pun turun dari atas jembatan penyeberangan dan menyusur sungai dengan arah berlawanan sepanjang dua kilometer. Anak-anak muda saat itu begitu mengagumi air sungai yang jernih di gunung. Ada yang mencoba mengambil dan meminumnya secara langsung. Air sungai yang jernih itu membuat segala jenis tumbuhan di sekitarnya hijau dan subur. Ketika berkumpul bersama di tengah sungai, saya mengatakan kepada mereka: “Lihatlah, air sungai yang jernih ini mengalir tanpa henti dan airnya tidak pernah sama. Demikian di dalam hidup kita terdapat aliran-aliran air hidup yang tiada hentinya.” Kami semua mengangkat puji-pujian yang indah kepada Tuhan karena anugerah-Nya yang begitu indah bagi hidup kita.

 

 

Pada hari ini kita memasuki Vigili Pentakosta. Memang jarang orang merayakan Vigili Pentakosta, namun baiklah kalau kita menyiapkan batin kita secara rohani untuk merayakan Hari Raya Pentekosta besok. Persiapan ini dapat membantu kita untuk membuka hati, budi, dan pikiran supaya Roh Kudus yang kita nantikan dan dambakan selama masa novena ini dapat masuk dan membarui hidup kita. Roh Kudus ada air kehidupan yang mengalir di dalam hidup kita, yang membarui hidup kita dari dalam. Dampaknya adalah bahwa karya Roh Kudus akan mengubah hidup kita secara radikal dari dalam hidup kita. Roh Kudus diberikan oleh Bapa melalui Yesus Kristus Putera-Nya untuk menghidupkan Gereja. Roh Kudus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa di dalam Gereja. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang memberi kesaksian tentang Yesus Kristus sebagai Putera Allah.

 

 

Penginjil Yohanes hari ini mengisahkan kehadiran Yesus di tengah banyak orang pada Hari Raya Pondok Daun. Ketika itu, Yesus mengamati semua orang yang berziarah ke Yerusalem, mereka memiliki sebuah pencarian yang sangat luhur tentang kasih karunia Allah. Yesus memandang mereka dan berbicara dengan kuasa dan wibawa: “Barangsiapa haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Barangsiapa percaya kepada-Ku: dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yohanes menambahkan: “Yang dimaksudkan Yesus adalah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya”.

 

 

Roh Kudus adalah pribadi ilahi yang tidak ada “patungnya”. Roh Kudus disimbolkan di dalam Kitab Suci sebagai angin, api, air, tiang awan, minyak dan lain sebagainya. Semua simbol ini tidak mengurangi hakikat Roh Kudus sebagai pribadi ilahi yang satu dan sama dengan Bapa dan Putera. Roh Kudus adalah aliran-aliran air hidup yang dapat mengubah seluruh hidup kita untuk merasakan kerahiman dari Tuhan. Tuhan Yesus sendiri selalu menunjukkan diri-Nya sebagai air hidup. Air itu mengalir dan menguatkan serta menghidupkan setiap pribadi. Air adalah Roh Kudus yang dicurahkan kepada setiap umat pilihan Tuhan.

 

 

Pada saat kita semua dibaptis, kita dibaptis dengan air sebagai lambang Roh Kudus. Air dicurahkan ke atas kepala kita sambil menyapa nama Allah Tritunggal Mahakudus. Itulah saat kita semua merasakan pencurahan Roh Kudus. Kita semua merasakan kekudusan Tuhan. Kita semua menjadi pribadi karistmatis. Hidup kita pertama kali diliputi air kudus dan mengalir, menguduskan seluruh tubuh kita yang fana menjadi tubuh yang ilahi dan kudus. Hidup kita yang lama dibarui, dikuduskan dalam Roh.

 

 

Roh Kudus sebagai air kehidupan menyatukan pribadi lepas pribadi. Akibat dosa manusia menjadi kotor, tercerai-berai. Manusia dikuasai egoisme, kesombongan dan hawa nafsu. Hanya Roh Kuduslah yang mampu mempersatukan setiap pribadi yang tercerai-berai akibat dosa. Sebagai contoh Tuhan sendiri pernah mengacaubalaukan bahasa seluruh bumi di Babel. Roh Kudus juga berperan sebagai penuntun hidup kita. Dalam situasi yang sulit, Tuhan selalu mengutus Roh-Nya untuk memulihkan kita semua. Roh Kudus berdoa bagi manusia dengan keluhan tak terucapkan. St. Paulus mengatakan bahwa Allah yang menyelami hati nurani mengetahui maksud Roh itu yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah berdoa untuk orang-orang kudus.  (PJSDB)

 

 

Quote of the day : Holy spirit is my leader, not you. (Author Unknown)

 

Melayani Tuhan Dalam Keheningan

Jumat, 13 Mei 2016 (Peringatan St. Perawan Maria Dari Fatima)

Kis. 25:13b-21;

Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab;

Bacaan Injil : Yoh. 21:15-19.

Ayat :  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:17).

 

Di komunitas PD Muda Mudi Karismatik Katolik di paroki tempat kami berkomunitas, sekitar 9-10 tahun yang lalu, bergabunglah seorang anak muda yang berperawakan tinggi besar tetapi memunyai sifat agak introvert serta pendiam.

 

Setelah sekian lama berkomunitas, anak muda ini kemudian bergabung untuk melayani dalam kepengurusan (tim pelayan). Karena perawakan dan memang permintaan yang bersangkutan, anak muda ini melayani di bidang Sie Perlengkapan dan Sound System. Tugasnya sangat sederhana: mempersiapkan segala kebutuhan  untuk acara Persekutuan Doa, mulai dari menggelar tikar/karpet, siapkan meja atau kursi kalau dibutuhkan (misal saat perayaan Ekaristi), dan mempersiapkan kebutuhan sound system yang setiap kali harus dibongkar pasang dengan berbagai macam kabel dan peralatan sound system yang cukup berat. Dikarenakan komunitas anak muda kami juga melayani dalam kegiatan Sekolah Minggu di Paroki (PIA), maka kebutuhan akan perlengkapan dan sound system tersebut juga terjadi secara rutin setiap hari Minggu pagi.

 

Yang luar biasa adalah, anak muda ini selalu menjalankan tugas dan pelayanannya dengan tepat waktu, tidak pernah mengeluh dan bersukacita senantiasa dalam melakukan bongkar pasang sound system maupun perlengkapan lainnya, bahkan saat pengurus atau tim pelayanan yang lainnya belum datangpun, anak muda ini tetap melakukan tugas-tugas tadi sendirian dan selalu dimulai dengan tepat waktu tanpa ada protes atau keluhan sedikit pun kepada tim pelayan atau petugas yang terlambat datang.

 

Sekitar tahun 2011-an saat berkesempatan melakukan rekoleksi  untuk memberikan recharging rohani pengurus atau tim pelayan, saat mengisi sebuah session tentang “Motivasi Menjadi Seorang Pelayan”, saya bertanya ke anak muda ini: “Bro, meskipun berkesan mendadak dan tanpa meminta kamu melakukan persiapan, aku mau minta tolong kamu supaya me-sharingkan, apa yang membuat kamu tetap setia melakukan tugas dan pelayanan yang menjadi tugasmu di Sie Perlengkapan dan Sound System. Yang sangat menarik, sering terjadi tim pelayan mengeluh karena partnernya dalam bertugas datang terlambat sehingga yang bersangkutan harus mengawali tugasnya sendirian terlebih dahulu. Tapi selama ini aku melihat kamu selalu rajin tepat waktu dan nggak peduli apakah tim pelayan yang lain sudah datang atau belum untuk membantu. Kamu tetap memulai tugasmu sebelum tim pelayan yang lain datang tanpa mengeluh dan komplain, meskipun tim pelayan lain tidak memenuhi komitmen tidak tertulis bahwa tim pelayan yang bertugas wajib hadir satu jam sebelum acara untuk melakukan persiapan termasuk membantu perlengkapan.”

 

Anak muda ini dengan suara agak terbata-bata menjawab: “Ko Jungky, saya melakukan ini sejak saya mendengar apa yang Ko Jungky  sampaikan di suatu kesempatan Persekutuan Doa saat-saat awal saya bergabung di komunitas ini. Waktu itu Ko Jungky bilang bahwa saat melayani Tuhan itu kita harus benar-benar melayani untuk Tuhan dan bukan untuk melayani pemimpin/pengurus yang lain. Jadi melayani Tuhan itu dasarnya karena kita mencintai Dia, bukan untuk mencari pujian dari teman atau pengurus lain. Itulah yang saya lakukan selama ini :  saya melakukan ini untuk Tuhan karena saya mencintai Dia…”

 

Terjadi keheningan sekitar 2-3 menit saat anak muda ini selesai mengutarakan sharingnya…(Dan tanpa saya sadari, inti dari session yang sedang saya sampaikan sudah tersampaikan dengan sangat sempurna… Praise God!)

 

Mari kita tanyakan ke dalam hati nurani kita masing-masing apa yang menjadi pertanyaan Yesus kepada Petrus: “Jungky (nama kita masing-masing), apakah engkau mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Jungky Junanto)

 

 

 

 

 

Quote of the day : The only way you can serve God is by serving other people. (Rick Warren)

 

Kristus Untuk Semua Orang

Kamis, 12 Mei 2016 ( Peringatan St. Nereus,  St. Akhilleus, St. Pankrasius)

Kis. 22:30; 23:6-11;

Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11;

Bacaan Injil : Yoh. 17:20-26.

Ayat :  Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. (Yoh. 17:24)

 

Meskipun sudah mengikuti belasan kali perayaan Ekaristi dalam bahasa asing yang bukan bahasa ibu kita, yaitu Bahasa Indonesia, tetap saja perasaan haru bercampur gembira dan bulu tangan yang berdiri karena merinding selalu muncul setiap kali saat mengalami dan mengikuti perayaan Ekaristi semacam itu. Meskipun tidak hafal atau pun tidak mengerti doa-doa yang didaraskan, akan tetapi tetap saja saya bisa mengikutinya dengan baik karena tahu dan mengerti doa apakah yang sedang didaraskan tersebut, apakah  sedang mendaraskan Doa Kemuliaan, Doa Tobat, atau doa-doa yang lainnya.

 

Dalam Perayaan Ekaristi seperti itu, saya selalu memuji kebesaran dan keagungan Tuhan dalam hati: Tuhan, sungguh luar biasa tubuh-Mu, persekutuan-Mu dalam Gereja Katolik ini. Ratusan bahkan ribuan manusia bisa berada dalam sebuah perayaan yang sama, padahal mereka tidak saling mengenal antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, asal usul yang sangat berbeda, serta jenis etnis dan warna kulit yang berlainan. Semua bersatu dalam doa dan pujian yang sama, semua menjadi umat yang sama dan berbagi tubuh dan darah Kristus yang sama.

 

Alangkah luar biasanya apabila seluruh Gereja Tuhan di seluruh dunia dapat menjadi satu dan tidak terpecah-pecah karena perbedaan, benturan berbagai kepentingan dan pengkotak-kotakkan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, yang biasanya ‘dibungkus’  dengan mengatasnamakan visi Tuhan, wahyu Tuhan atau bahkan diatasnamakan untuk kemuliaan Tuhan.

 

Dan saya pun sangat bangga dengan para pemimpin Gereja Katolik, para Paus yang mau dengan rendah hati membuka diri dan membuka pintu dialog bagi pemimpin-pemimpin Gereja lain di dunia ini. Semoga semangat persatuan ini sungguh meluas dan mewabah dalam Gereja-gereja di seluruh dunia.

 

Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana Yesus pun rindu dan dengan penuh cinta mendaraskan doa bagi murid-murid-Nya. Doa yang didaraskan oleh Yesus mewujud dalam pengalaman pribadi di atas : supaya semua umat manusia menjadi satu, sama seperti Bapa dan Yesus yang adalah satu (ayat 21-22).

 

Mari sejenak kita meluangkan waktu untuk ikut berdoa bersama Yesus, berdoa bagi persatuan umat manusia di dalam Dia, berdoa bagi Gereja-gereja di dunia supaya menjadi Gereja yang satu, kudus, Katolik (universal) dan Apostolik. (Jungky Junanto)

 

 

 

 

Quote of the day :  The religion of Christ not Christian. Christ for all people. (Author Unknown)

 

 

Bertahan Dalam Kebenaran Tuhan

Rabu, 11 Mei 2016 

Kis. 20:28-38;
Mzm. 68:29-30,33-35a,35b-36c;
Bacaan Injil : Yoh. 17:11b-19.

 

Ayat : Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. (Yoh. 17:11)

 

Tugas Yesus di dunia ini tampaknya akan segera berakhir. Yesus telah melaksanakan apa yang ditugaskan oleh Bapa-Nya, dan sekarang saatnya untuk kembali ke surga, setelah menyerahkan nyawa dan dibangkitkan pada hari ketiga. Lalu bagaimana dengan nasib para murid Yesus? Sanggupkah mereka meneruskan apa yang telah diinisiasi oleh Yesus, teristimewa menghadapi “dunia” yang menentang mereka? Kita mengetahui hanya Yohanes saja yang hidup sampai masa tuanya, yang lainnya mesti mengakhiri hidupnya sebagai martir, meregang nyawa demi Yesus Kristus.

 

 

Yesus tentu mengetahui apa yang bakal menimpa para murid-Nya itu. Yang menjadi kekhawatiran justru para murid itu bisa jadi akan berputus-asa dan bisa jadi akan menyerah kepada “dunia”. Oleh sebab itu, Yesus memohon agar Bapa-Nya menjaga dan memelihara mereka agar tetap berada dalam kebenaran Allah. Yesus tidak meminta kepada Bapa-Nya agar para murid yang dikasihi-Nya itu diambil dari dunia, untuk ditempatkan di taman Firdaus misalnya. Tidak, para murid itu memang mesti meminum juga dari cawan yang sama dengan Yesus.

 

 

Ada banyak orang tua yang berusaha agar anak-anaknya selalu berada dalam keadaan nyaman, terhindar dari berbagai masalah. Ini tentu karena kasihnya kepada anak-anaknya. Tetapi jika ingin mengikuti jejak Yesus, sama seperti Yesus menangani para murid-Nya itu, seharusnya orang tua justru mendampingi anak-anaknya menghadapi berbagai persoalan hidup, bukan menghindari persoalan atau memindahkan ke tempat lain yang aman. Sama seperti Yesus, yang akan meninggalkan murid-murid-Nya untuk kembali ke surga, begitu pula halnya dengan para orang tua, mereka tidak bisa mendampingi anak-anaknya untuk selamanya. Ada saatnya orang tua akan meninggalkan anak-anak mereka. Nah, ketika saat itu tiba, siapa yang akan menggantikan orang tua mendampingi anak-anak?

 

 

Sebagai orang tua, marilah kita membuka kesempatan bagi anak-anak kita untuk berlatih diri menghadapi berbagai persoalan hidup, mempersiapkan mereka untuk menjadi “pemenang”, dan tentu saja senantiasa berdoa dan berharap kepada Bapa kita di surga, agar kelak mereka menjadi orang yang bersikukuh bertahan dalam kebenaran Tuhan.  Amin. (Sandy Kusuma)

 

 

 

Quote of the day : Truth in God is not a fraud. (Author Unknown)